PENGKAJIAN KARDIOVASKULER

07:52
PEMERIKSAAN JANTUNG


Dalam melakukan pengkajian dengan baik, maka diperlukan pemahaman, latihan dan ketrampilan mengenal tanda dan gejala yang ditampilkan oleh pasien. Proses ini dilaksanakan melalui interaksi perawatan dari klien, observasi, dan pengukuran.
Tujuan melakukan pengkajian
1.        Mengkaji fungsi kardiovaskuler
2.        Mengenal secara dini adanya gangguan nyata maupun potensial
3.        Mengidentifikasi penyebab gangguan
4.        Merencanakan cara mengatasi permasalahan yang ada serta menghindari masalah yang akan terjadi

Tekhnik pengkajian
Pengkajian dapat dilakukan minimal sekali, tetapi dapat dilakukan beberapa kali secara teratur, misal setiap jam pada pasien kritis. Tekhnik pengkajian meliputi :
1.      Anamnesa
2.      Pemeriksaan fisik
3.      Pemeriksaan diagnostik/penunjang
Wawancara :
1.      Keluhan utama
Tanyakan tentang gangguan terpenting yang dirasakan klien sehingga ia perlu pertolongan. Keluhan yang harus diperhatikan antara lain sesak napas, nyeri dada menjalar ke arah lengan, cepat lelah, batuk lendir atau berdarah, pingsan, berdebar-debar, dan lainnya sesuai dengan patologi penyakitnya.
2.      Riwayat penyakit sekarang (RPS)
Tanyakan tentang perjalanan penyakit sejak keluhan hingga klien meminta pertolongan. Misal :
a.         tanyakan sejak kapan keluhan dirasakan,
b.         berapa kali keluhan terjadi,
c.         bagaimana sifat keluhan,
d.        kapan dan apa penyebab keluhan,
e.         keadaan apa yang memperburuk dan memperingan keluhan,
f.          bagaimana usaha untuk mengatasi keluhan sebelum meminta pertolongan,
g.         berhasilkan tindakan tersebut
3.      Riwayat penyakit terdahulu (RPD)
Tanyakan tentang penyakit yang pernah dialami sebelumnya :
a.         tanyakan apakah klien pernah dirawat sebelumnya
b.         dengan penyakit apa,
c.         pernahkah mengalami sakit yang berat
4.      Riwayat tambahan disesuaikan dengan patologi penyakitnya
a.         riwayat keluarga
b.         riwayat pekerjaan
c.         riwayat geografi
d.        riwayat alergi
e.         kebiasaan sosial
f.          kebiasaan merokok
Pemeriksaan fisik (umum) (Chepalokaudal)
Keadaan Umum : KU baik/sedang/lemah
Kesadaran : Compos Mentis, Apatis, Stupor, Koma
Vital sign :  TD: ____mmHg,  RR: ___x/mnt,  N: ____x/mnt,  S: ___oC   BB/TB :
Kepala :
Bentuk mesosepal ataukah ada kelainan, adakah jejas
Rambut ______________
Telinga _______________
Hidung _______________
Mata  ________________
Mulut dan gigi : ________
Leher :
Kaji adanya pembesaran leher, kaji adanya JVP (misal pembesaran lnn (-), peningkatan JVP (-)
Thoraks :
Inspeksi       :   Lihat adanya jejas, lihat gerak dada dan pengembangan dada, adakah kelainan, lihat adanya retraksi dada, sesuaikan dengan alasan masuk
Palpasi         :   Kaji pengembangan dada, rasakan adakah perbedaan antara dada kanan dan kiri
Perkusi        :   Lakukan perkusi pada semua area paru
Auskultasi   :   Lakukan auskultasi pada semua area paru dan jantung
Pemeriksaan fisik sistem kardiovaskuler
Secara topografik jantung berada di bagian depan rongga mediastinum
Bagian dada yang ditempati oleh proyeksi jantung yang seperti terlukis di atas itu dinamakan prekordium
ALAT YANG DIPERLUKAN : Double Lumen-Stetoskop dan Timer
Pertimbangan umum :
o    Pakaian atas pasien harus disiapkan dalam keadaan terbuka.
o    Ruang pemeriksaan harus tenang untuk menampilkan auskultasi yang adekuat.
o    Tetap selalu menjaga privacy pasien
o    Prioritaskan dan perhatikan untuk tanda-tanda kegawatan.
Inspeksi Jantung
Tanda-tanda yang diamati :
1.        bentuk prekordium
2.        Denyut pada apeks jantung
3.        Denyut nadi pada dada
4.        Denyut vena
Bentuk prekordium :
1.        Pada umumnya kedua belah dada adalah simetris
2.        Prekordium yang cekung dapat terjadi akibat perikarditis menahun, fibrosis atau atelektasis paru, scoliosis atau kifoskoliosis
3.        Prekordium yang gembung dapat terjadi akibat dari pembesaran jantung, efusi epikardium, efusi pleura, tumor paru, tumor mediastinum
Denyut apeks jantung
1.      Dalam keadaaan normal, dengan sikap duduk, tidur terlentang atau berdiri iktus terlihat di dalam ruangan interkostal V sisi kiri agak medial  dari linea midclavicularis sinistra
2.      Pada anak-anak iktus tampak pada ruang interkostal IV
3.      Sifat iktus :
a.         Pada keadaan normal, iktus hanya merupakan tonjolan kecil, yang sifatnya local. Pada pembesaran yang sangat pada bilik kiri, iktus akan meluas.
b.         Iktus hanya terjadi selama systole. Oleh karena itu, untuk memeriksa iktus, kita adakan juga palpasi pada a. carotis comunis untuk merasakan adanya gelombang yang asalnya dari systole.
Denyutan nadi pada dada
1.        Apabila di dada bagian atas terdapat denyutan maka harus curiga adanya kelainan pada aorta
2.        Aneurisma aorta ascenden dapat menimbulkan denyutan di ruang interkostal II kanan, sedangkan denyutan dada di daerah ruang interkostal II kiri menunjukkan adanya dilatasi a. pulmonalis dan aneurisma aorta descenden
Denyut vena
1.        Vena yang tampak pada dada dan punggung tidak menunjukkan denyutan
2.        Vena yang menunjukkan denyutan hanyalah vena jugularis interna dan eksterna
Palpasi jantung
Urutan palpasi dalam rangka pemeriksaan jantung adalah sebagai berikut :
1.        Pemeriksaan iktus cordis
2.        Pemeriksaan getaran / thrill
3.        Pemeriksaan gerakan trachea
Pemeriksaan iktus cordis
1.        Hal yang dinilai adalah teraba tidaknya iktus, dan apabila teraba dinilai kuat angkat atau tidak
2.        Kadang-kadang kita tidak dapat melihat, tetapi dapat meraba iktus
3.        Pada keadaan normal iktus cordis dapat teraba pada ruang interkostal kiri V, agak ke medial (2 cm) dari linea midklavikularis kiri.
Pemeriksaan getaran/thrill
1.      Adanya getaran seringkali menunjukkan adanya kelainan katub bawaan atau penyakit jantung congenital.
2.      Disini harus diperhatikan :
a.         Lokalisasi dari getaran
b.         Terjadinya getaran : saat systole atau diastole
c.         Getaran yang lemah akan lebih mudah dipalpasi apabila orang tersebut melakukan pekerjaan fisik karena frekuensi jantung dan darah akan mengalir lebih cepat.
d.        Dengan terabanya getaran maka pada auskultasi nantinya akan terdengar bising jantung
Pemeriksaan gerakan trakhea
1.        Pada pemeriksaan jantung, trachea harus juga diperhatikan karena anatomi trachea berhubungan dengan arkus aorta
2.        Pada aneurisma aorta denyutan aorta menjalar ke trachea dan denyutan ini dapat teraba
Perkusi jantung
1.        Kita melakukan perkusi untuk menetapkan batas-batas jantung
a.         Batas kiri jantung
b.         Batas kanan jantung
2.        Perkusi jantung mempunyai arti pada dua macam penyakit jantung yaitu efusi pericardium dan aneurisma aorta

Batas kiri jantung
1.        Kita melakukan perkusi dari arah lateral ke medial.
2.        Perubahan antara bunyi sonor dari paru-paru ke redup relatif kita tetapkan sebagai batas jantung kiri
3.        Normal
Atas : SIC II kiri di linea parastrenalis kiri (pinggang jantung)
Bawah : SIC V kiri agak ke medial linea midklavikularis kiri ( tempat iktus)
Batas kanan jantung
1.      Perkusi juga dilakukan dari arah lateral ke medial.
2.      Disini agak sulit menentukan batas jantung karena letaknya agak jauh dari dinding depan thorak
3.      Normal :
Batas bawah kanan jantung adalah di sekitar ruang interkostal III-IV kanan,di linea parasternalis kanan
Sedangkan batas atasnya di ruang interkostal II kanan linea parasternalis kanan
Auskultasi jantung
1.        Auskultasi jantung menggunakan alat stetoskop duplek, yang memiliki dua corong yang dapat dipakai bergantian.
2.        Corong pertama berbentuk kerucut (bell) yang sangat baik untuk mendengarkan suara dengan frekuensi tinggi (apeks)
3.        Corong yang kedua berbentuk lingkaran (diafragma) yang sangat baik untuk mendengarkan bunyi nada rendah
Pada auskultasi diperhatikan 2 hal, yaitu :
1.        Bunyi jantung : Bunyi jantung I dan II
a.         BJ I : Terjadi karena getaran menutupnya katup atrioventrikularis, yang terjadi pada saat kontraksi isometris dari bilik pada permulaan systole
b.         BJ II : Terjadi akibat proyeksi getaran menutupnya katup aorta dan a. pulmonalis pada dinding toraks. Ini terjadi kira-kira pada permulaan diastole
c.         BJ II normal selalu lebih lemah daripada BJ I
2.        Bising jantung / cardiac murmur
Bunyi jantung 1 (S1)
1.        Daerah auskultasi untuk BJ I :
a.         Pada iktus : katub mitralis terdengar baik disini.
b.         Pada ruang interkostal IV – V kanan, pada tepi sternum : katub trikuspidalis terdengar disini
c.         Pada ruang interkostal III kiri, pada tepi sternum : merupakan tempat yang baik pula untuk mendengar katub mitral.
2.        Intensitas BJ I akan bertambah pada apek pada:
a.         stenosis mitral
b.         interval PR (pada EKG) yang begitu pendek
c.         pada kontraksi ventrikel yang kuat dan aliran darah yang cepat misalnya pada kerja fisik, emosi, anemia, demam dll.
3.        Intensitas BJ I melemah pada apeks pada :
a.         shock hebat
b.         interval PR yang memanjang
c.         decompensasi hebat.
Bunyi jantung 2 (S2)
1.        Intensitas BJ II aorta akan bertambah pada :
a.         hipertensi
b.         arterisklerosis aorta yang sangat.
2.        Intensitas BJ II pulmonal bertambah pada :
a.         kenaikan desakan a. pulmonalis, misalnya pada : kelemahan bilik kiri, stenosis mitralis, cor pulmonal kronik, kelainan cor congenital
3.        BJ I dan II akan melemah pada :
a.         orang yang gemuk
b.         emfisema paru-paru
c.         perikarditis eksudatif
d.        penyakit-penyakit yang menyebabkan kelemahan otot jantung
Bising jantung
1.        Apakah bising terdapat antara BJ I dan BJ II (=bising systole), ataukah bising terdapat antara BJ II dan BJ I (=bising diastole). Cara termudah untuk menentukan bising systole atau diastole ialah dengan membandingkan terdengarnya bising dengan saat terabanya iktus atau pulsasi a. carotis, maka bising itu adalah bising systole.
Tentukan lokasi bising yang terkeras.
2.        Tentukan arah dan sampai mana bising itu dijalarkan. Bising itu dijalarkan ke semua arah tetapi tulang merupakan penjalar bising yang baik, dan bising yang keras akan dijalarkan lebih dulu.
3.        Perhatikan derajat intensitas bising tersebut, Ada 6 derajat bising :
a.         Bising 1 yang paling lemah yang dapat didengar. Bising ini hanya dapat didengar dalam waktu agak lama untuk menyakinkan apakah besar-benar merupakan suara bising.
b.         Bising 2 lemah, yang dapat kita dengar dengan segera.
c.         Bising 3 dan 4 adalah bising yang sedemikian rupa sehingga mempunyai intensitas diantara 2 dan 5.
d.        Bising 5 yang sangat keras, tapi tak dapat didengar bila stetoskop tidak diletakkan pada dinding dada.
e.         Bising 6 yang dapat didengar walaupun tak menggunakan             stetoskop.
4.        Perhatikan kualitas dari bising, apakah kasar, halus, bising gesek, bising yang meniup, bising yang melagu
Pemeriksaan pembuluh darah perifer
1.        Pada pemeriksaan pembuluh darah perifer hal yang biasa dilakukan adalah palpasi nadi.
2.        Pada pemeriksaan yang rutin yang dilakukan adalah palpasi nadi dari a. radialis.
3.        Pada palpasi nadi harus diperhatikan hal-hal di bawah ini :
a.     Frekuensi nadi
b.    Tegangan nadi
c.     Irama nadi
d.    Macam denyut nadi
e.     Isi nadi
f.     Bandingkan nadi a. radialis ka & ki
g.    Keadaan dinding arteri
4.        Pemeriksaan JVP, posisikan pasien 30o, kemudian hitung peninggian  JVP, normalnya 2,5 s.d. 5 cm
Pemeriksaan diagnostik/penunjang
Alat Diagnostik
1.        Gas Darah Arteri atau ABG (Arterial Blood Gas) ; dapat diindikasikan dan memonitor level oksigenasi dalam darah.
2.        Rontgen Dada ; untuk memeriksa struktur jantung dan ukuran, dilatasi arteri pulmonalis utama, kongesti paru, efusi pleura atau efusi jantung, ada atau tidaknya pacu jantung serta posisi pacu jantung, kateter intrakardia, dan kateter arteri pulmonalis.
3.        EKG (Elektrokardiogram), EKG 12 lead direkomendasikan dan sangat berarti dalam menyediakan informasi untuk diagnosis jantung.
4.        Ekokardiogram, pemeriksaan yang menggunakan gelombang ultrasonic untuk mendapatkan dan menampilkan gambaran struktur jantung, gerakan jantung, dan abnormalitas seperti stenosis katub aorta dan katub mitral, prolapse katub mitral dan regurgitasi , insufisiensi aorta, defek septum atrium dan efusi pericardial.
5.        Ekokardiografi Transesofageal (TEE), pemeriksaan ini mengkombinasikan ultrasound dan endoskopi. TEE adalah cara yang tepat untuk memonitor fungsi jantung selama bedah jantung terbuka karena probe esophageal dapat dimasukkan dan ditinggal di posisi yang sama selama operasi.
6.        Tes Stres, tes ini dikenal sebagai elektrokardiografi latihan, dan untuk individu yang dapat menoleransi latihan, tes yang dilakukan meliputi mengayuh sepeda stationer atau berjalan di treadmill sambil dipasang mesin EKG.
7.        Kateter arteri Pulmonalis (PAC/Pulmonary Artery Catheter), kateter invasif yang memiliki ujung balon dimasukkan oleh dokter ke dasar kapiler paru melalui interna jugularis, femur, atau vena subclavia. Kateter ini digunakan untuk mengukur tekanan vena pulmonalis dan menyediakan data tekanan jantung kanan dan kiri, curah jantung, temperatur inti dan saturasi oksigen halnya resistensi vascular paru. Kateter ini tetap membuka dengan tetesan IV yang pelan dan membutuhkan bilas yang periodic dengan activator bilas manual. Kateter ini memiliki tekanan transducer dekat dengan aktivator bilas, dimana mengubah energi mekanis yang disalurkan melalui kateter dari jantung ke energy listrik yang dapat dilihat melalui monitor jantung. Transducer ini juga dapat memeriksa suhu inti tubuh pasien dengan memasangkan konektor termistor dari PAC ke monitor jantung.
8.        Kateterisasi Jantung (CC/Cardiac Catheterization), digunakan untuk mengukur tekanan di jantung dan memberikan gambaran visual aliran darah melalui cairan yang diinjeksikan ke ruang jantung atau arteri coroner. CC menunjukkan bagaimana fungsi jantung dan apakah ada sumbatan arteri coroner.
Jantung pasien dikaji masuk lewat tusukan femur. Jika pasien melakukan kateterisasi jantung kanan, vena femur yang tusuk, dan jika kateterisasi jantung kiri, femur arteri yang ditususk. Saat tekanan sudah didapatkan, cairan marker diinjeksikan untuk melihat fungsi ruang jantung dan memberi gambaran visual arteri coroner ( untuk kateterisasi jantung kiri saja).
Tes Laboratorium
Level serum darah diuji secara rutin untuk mementukan konsentrasi elektrolit yang dapat mempengaruhi fungsi jantung.
Organ lain seperti ginjal, hati dan sistem pernapasan serta metabolism glukosa diperiksa untuk mengidentifikasi disfungsi organ.
Isoenzim jantung menentukan apakan kematian sel miokardial sudah terjadi / belum. Level enzim perlu diamati untuk megetahui infark miokard.
Level lemak penting untuk menentukan faktor resiko penyakit arteri coroner.
Status hematologis pasien dapat menentukan anemia atau infeksi yang disebabkan oleh penyakit jantung atau gangguan koagulasi.
Nilai abnormal kimia darah dapat mempengaruhi kontraktilitas jantung dan penting untuk dievaluasi.
1.        Tes Laboratorium : Elektrolit terdiri dari Kalium, Kalsium, Magnesium, Natrium
2.        Tes Laboratorium : Hematologi terdiri dari Sel Darah Merah (RBC), Sel Darah Putih (WBC)
3.        Tes Laboratorium : Level Kolesterol terdiri dari Kolesterol, HDL dan LDL, Trigliserida
4.        Tes Laboratorium :
a.         Enzim Jantung (Marker) terdiri diri Isoenzim yaitu
1)        Kreatin fosfokinase (CPK/creatine phosphokinase) atau lebih dikenal CK (creatine kinase) atau keratin kinase. CPK disusun oleh tiga isoenzim atau subunit yang ditemukan bervariasi di jaringan otak dan otot.
2)        CK – BB mengindikasi konsentrasi kreatinin kinase yang ditemukan di paru-paru, kandung kemih, otak dan gastrointestinal. Hasil ini akan meningkat setelah kecelakaan serebrovaskular (CVA/ cerebral vascular accident) atau stroke otak. Nilai normalnya adalah 0 – 1%.
3)        CK – MM isoenzim ini ditemukan dalam otot rangka dan miokardium. Nilai normalnya 95-100%.
4)        CK – MB isoenzim ini secara khusus ditemukan dalam sel miokardium. Serum ini dianggap indicator yang paling specifik atau “gold standard” untuk mendiagnosis infark miokard dalam 24 jam pertama dari gejala dan onset. Isoenzim ini akan meningkat dari 4 – 8 jam setelah infark miokard puncaknya antara 15 – 24 jam, tetap meningkat selama 48 – 72 jam dan kembali normal setelah 3 hari jika tidak ada kerusakan jantung yang lebih lanjut. Nilai normalnya 0 – 6% total CK.
b.         Laktat Dehidrogenase (LDH), enzim ini berkontribusi untuk metabolisme korbohidrat dan ditemukan di jantung, ginjal dan sel darah merah. LDH sangat berguna untuk diagnosis lanjutan MI setelah CK – Mbkembali normal.
c.         Troponin, adalah protein yang sangat spesifik pada otot jantung dan akan meningkat secara cepat di aliran darah seperti halnya CK – MB setelah MI. Troponin tidak dapat dideteksi pada orang sehat dan setiap cedera otot kecuali cedera otot jantung
d.        Mioglobin, enzim jantung lain yang penting yang dapat digunakan pada deteksi paling awal untuk MI.
e.         Peptide natriuretic Tipe B (BNP), adalah neurohormon yang disekresi oleh ventrikel jantung dalam respon regangan ventrikel dan overload. Ini adalah indikator yang terbaik untuk diagnosis dan prognosis gagal jantung (HF). Dengan menggunakan tes darah ini, pasien dapat ditangani dengan cepat untuk gagal jantung.

Daftar Pustaka
Terry, C.L., Weaver, A., 2013. Keperawatan Kritis Demystified. Penerbit ANDI ; Yogjakarta

Artikel Terkait

Previous
Next Post »